
BREBES I REPUBLIKNEWS.NET—Banjir yang menerjang Desa Kalierang, Kecamatan Bumiayu Brebes, bukan sekadar bencana alam biasa. Di balik derasnya arus dan lumpuhnya jalan nasional, tersimpan tragedi yang membuka mata.
Seorang warga tersengat aliran listrik dan hanyut, hingga ditemukan tak bernyawa di sungai kecil tak jauh dari lokasi kejadian.
Korban, HA (27), hanya berniat menengok rumah sang kakek bersama dua rekannya, Adi dan Ade.
Namun genangan air yang menyentuh kabel listrik dari bangunan roboh mengubah sore itu menjadi mimpi buruk.
Ketika arus menyambar tubuhnya, Hekal jatuh dan terbawa derasnya banjir. Ia ditemukan tiga jam kemudian, sudah tak bernyawa.
“Kami tidak sempat melihat ke mana dia terbawa. Saat menoleh, Hekal sudah hilang,” ujar saksi mata yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (7/11/2025).
Banjir yang Menyergap Tanpa Ampun
Hujan intensitas tinggi sejak pukul 14.29 WIB membuat Sungai Kalierang meluap. Air masuk ke pemukiman dan jalan nasional, merendam puluhan kendaraan.
Kemudian menyeret sepeda motor, dan menghanyutkan satu mobil putih. Warga hanya bisa berteduh di teras toko, menyaksikan arus yang tak bisa dilawan.
Drainase Lemah, Listrik Aktif: Kombinasi Mematikan
Pantauan media menunjukkan buruknya sistem drainase memperparah luapan air. Ironisnya, aliran listrik tetap menyala saat banjir terjadi.
Hingga menciptakan risiko fatal yang merenggut nyawa. Tragedi Hekal Alfi menjadi bukti nyata bahwa mitigasi bencana bukan sekadar wacana.
Evakuasi dan Peringatan
Kapolsek Bumiayu, AKP Edi Mardiyanto, membenarkan insiden tersebut dan mengingatkan masyarakat agar segera mematikan listrik saat banjir meningkat.
Ia juga menekankan pentingnya perbaikan sistem drainase dan edukasi warga tentang bahaya listrik saat bencana.
“Ini bukan hanya musibah, tapi peringatan keras bagi kita semua,” tegas Edi.
Banjir Belum Surut, Waspada Tetap Dijaga
Hingga berita ini diturunkan, hujan masih mengguyur wilayah Brebes Selatan. Petugas dan relawan terus berjaga di titik rawan sementara.
Warga berharap tragedi ini menjadi titik balik dalam penanganan bencana yang lebih manusiawi dan preventif.***